Produktif, Kreatif atau Konsumtif ???
“ I inspired from one of the best seller book which is the book of “The Subtle of not giving a f*uck by Mark Manson (Sebuah seni dalam bersikap bodo amat in Indonesian version) ”
Era digital disadari atau tidak disadari membuat kehidupan manusia menjadi jauh lebih mudah dan praktis bahkan sangat-sangat praktis. Zaman sekarang, asalkan kita udah punya si benda persegi panjang a.k.a smartphone, mau apa aja bisa. Mau belajar atau kursus tapi gak punya uang banyak? Bisa. Mau belanja tapi mager? Bisa. Mau masak tapi gak ngerti gimana caranya masak? Bisa. Mau nonton tapi gak punya TV? Gak punya duit buat nonton di bioskop? Bisa. Pengen jalan-jalan tapi gak tau jalan? Bisa. Everything that you wanna do, the answer is smartphone. Kita hanya perlu mengeluarkan sedikit modal untuk beli paket. Dengan uang 15 ribu atau bahkan dengan uang 5 ribu aja kita udah bisa akses internet. Gak hanya di kota aja bahkan di desa orang juga udah paham yang namanya akses internet dan mereka juga udah banyak yang pake si smartphone. Kalo dipikir-pikir, keserba-canggihan di era digital ini harusnya membuat kita bisa menjadi manusia yang jauh lebih informatif lagi dibandingkan zaman dulu yang gak semudah sekarang buat akses internet, buat ngedapetin informasi. But in reality, kehadiran internet gak semata-mata secara jleb menjadikan masyarakat Indonesia menjadi jauh lebih informatif. Most of them, lebih seneng komen-komenan di instagram, menyebarluaskan hate speech, lebih suka lihat video-video yang viral, lihat konten-konten yang lagi viral. Tapi banyak dari kita yang gak tahu banyak sebenernya situs-situs atau channel-channel youtube yang jauh lebih bermanfaat yang bisa kasih kita sumber informasi, yang seharusnya jadi viral. Bukan video-video atau situs-situs yang merusak moral, yang cuma jadi racun buat pemikiran generasi muda. Kalo dibilang orang Indonesia ketinggalan zaman? Big NO. Orang Indonesia justru sangat update tapi sayangnya, kebanyakan dari kita updatenya hanya yang viral-viral doang (masih mending kalo yang viral berfaedah tapi mostly isinya rata-rata konten-konten sampah yang gak ada faedahnya). Sangat disayangkan kalo internet hanya kita jadikan untuk hiburan dan seneng-seneng aja dan pada akhirnya, kita sangat mudah menerima berita-berita hoax karena kita gak tahu gimana caranya mem-filter berita, mem-filter informasi.
***
Internet, gak hanya berfungsi sebagai ladang informasi tapi juga sebagai wadah atau platform yang bisa kita gunakan untuk jadi manusia yang lebih produktif. Banyak sekarang kaum milenials yang beralih jadi content creator ataupun influencer. Ada Gita Savitri, Fathia Izzati, Agung Hapsah, Hujan Tanda Tanya, Naila Farhana, Nessie Judge dan masih banyak lagi. Mereka-mereka ini nih yang harus kita contoh, yang menjadikan internet gak hanya sumber informasi tetapi juga sebagai wadah untuk berkreasi. Intinya, jangan jadikan kemudahan untuk kita semakin tenggelam dengan comfort zone kita, bukan untuk berleha-leha, tapi jadikan kemudahan sebagai tantangan untuk membuat kita jadi manusia yang lebih produktif dan kreatif lagi. Trus, kalo kita buat karya lalu orang menganggap karya kita biasa aja. Lantas kita harus bagaimana? The answer is “BODO AMAT”. Arti bodo amat disini maksudnya kita jangan terlalu overthinking, jangan terlalu memikirkan penilaian orang terhadap karya kita sehingga pada akhirnya buat kita berhenti berkarya. Apapun karya yang kita buat, kuncinya satu. Jalan terusss. Jadikan penilaian orang sebagai pemicu atau motivasi buat kita untuk terus belajar dan memperbaiki kualitas karya kita. Semakin banyak yang nge-judge semakin mempermudah kita buat memperbaiki kualitas suatu karya yang kita buat karena pastinya kita makin terpacu untuk terus belajar, belajar dan belajar. So, seberapa kreatif dan produktif-kah kita?
“Semoga Indonesia bisa jauh lebih bijak dan cerdas menggunakan internet”

Komentar