Manusia Di Era Digital
“Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya yang membahas tentang produktifitas dan masih terinspirasi dari buku yang sama. Buat yang belum baca, bisa baca tulisan sebelumnya atau bisa langsung baca yang versi kedua.”
Sebelum lanjut ke pembahasan inti, aku cuma mau ingatin aja kalo setiap orang punya perspektif yang berbeda-beda dan itu gak jadi masalah selama perspektif itu masih di jalur yang positif. Beda kepala, beda pemkiran, beda pendapat. So, please let me to give my opinion. Agree or disagree up to you and I accept the criticism and suggestions.
***
Sepertinya semua orang di muka bumi ini udah tahu kalo sekarang kita, si makhluk yang disebut manusia sedang hidup di era digital mungkin lebih tepatnya di era media sosial. Kenapa media sosial? karena faktanya, berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), mayoritas pengguna internet di Indonesia (sekitar 29,5%) menggunakan media sosial ketika mendapatkan akses internet. Jadi gak heran kalo hampir semua orang di Indonesia kenal dengan Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, Path, Snapchat dan media sosial lainnya. Mungkin sebagian dari kita (khususnya aku pribadi) media sosial itu hanya digunakan sebagai hiburan dan wadah untuk menulis. Media sosial itu sendiri sebenarnya mempunyai fungsi utama. Dari berbagai sumber yang aku baca, fungsi utama social media itu sebagai ruang online yang memudahkan individu dalam urusan berbisnis dan mencari informasi serta mempercepat dan memperlancar komunikasi. Nah dari sisi hiburannya sendiri sebenarnya media sosial itu juga memiliki fungsi yang lebih spesifik (tergantung jenis media sosialnya). Media sosial sebagai wadah untuk berkreasi baik untuk membuat video, audio, tulisan, multimedia, yang karya-karya ini bisa kita bagikan ke siapa saja. Di internet sebenarnya gak melulu tentang media sosial tetapi ada banyak kegiatan sebenarnya yang bisa kita lakukan. Banyak website-website yang gak hanya sebagai hiburan tetapi juga bisa menambah wawasan kita. Google bener-bener mempermudah kehidupan kita terutama dalam hal mencari informasi. Daripada kita kepoin hal-hal yang gak jelas lebih baik kalo kita kepoin hal-hal yang bemanfaat.
***
Era digital memang memberikan keserbacanggihan dan kemudahan dalam kehidupan manusia tetapi tetap saja pasti ada hal baik dan hal buruknya tetapi balik lagi ke manusianya seberapa cerdas dalam menggunakan digital dan internet itu sendiri. Kalo kita bisa memanfaatkannya dengan baik, kita bisa mendapatkan manfaat dan keuntungan yang luar biasa tetapi kalo kita tidak bisa memanfaatkannya dengan baik yang ada kita gak maju-maju.
***
Baru-baru ini aku iseng-iseng aja gitu lihat komen-komen netizen di Instagram dan di YouTube. As we know, banyak juga yang udah bilang kalo makin lama jempol netizen-netizen di Indonesia semakin ganas dan semakin tidak bisa dikontrol, so I wanna prove it dan ternyata emang bener. Ada aja celah untuk mencari kesalahan orang lain, kekurangan orang lain. Dimulai dari Body Shaming, komen-komen gak jelas, pada sibuk ngurusin kehidupan orang lain. Coba deh kita pikir-pikir dan direnung-renungkan. Apa sih untungnya kita ngurusin hidup orang? dapat duit enggak, dapat hadiah enggak, dapat makanan juga enggak. Aku pernah baca di salah satu artikel (aku lupa nama webnya) si penulis bilang kalo orang yang suka nge-bully atau komen-komen tentang kehidupan orang lain itu karena mereka ingin mendapat kesenangan dan kepuasan batin. Kalo emang bener alasannya seperti itu, apakah kita gak mikir betapa jahatnya kita mencari kesenangan dari penderitaan orang lain? Apakah kita tidak punya hati nurani, atau apakah kita masih pantas untuk disebut sebagai manusia yang beradab? Menurutku sih enggak. Disamping itu, alangkah lebih baiknya kita jangan melihat sesuatu dari satu sisi atau dari satu sudut pandang aja. Jangan karena kita gak suka sama pihak yang satu terus kita menjelek-jelekkannya terus dan seakan-akan apa yang dibuatnya gak ada yang bener. Coba klarifikasi dulu dan jangan langsung ambil kesimpulan. Emang sih ini gak semudah yang dibayangkan but at least kalo kita gak bisa atau gak mau klarifikasi atau mencari informasi yang valid lebih baik kita diam aja, daripada buat akun palsu atau menjelek-jelekkan si objek di belakang,  gak usah terlalu sibuk ngurusin hidup orang, mengevaluasi kehidupan orang, mengintrospeksi kehidupan orang. Kalo kita fokus sama diri kita, fokus sama kekurangan kita, sibuk mengintrospeksi diri kita, kita gak akan punya waktu lagi buat ngurusin atau mencari-cari kekurangan dan kesalahan orang lain. Yang kita urusin dan kita kepoin semakin maju dan kita gak maju-maju, stay di tempat. Itu juga kenapa kita untuk beberapa hal harus bersikap bodo amat.
***
Aku juga bukan orang yang bener-bener banget, masih banyak kesalahan juga yang harus diperbaiki, kadang juga masih terbesit di hati buat julid and that’s why kenapa aku buat tulisan ini. Tulisan ini khususnya sebagai reminder dan alarm buat aku supaya gak julid dan sibuk ngurusin hidup orang. Ayok kita sama-sama belajar untuk tidak julid.

Mudah-mudahan kita sebagai generasi milenial bisa jadi generasi nunduk. Generasi nunduk dalam artian nunduk karena sibuk baca buku, baca artikel yang bermanfaat dan nunduk karena sibuk buat tulisan atau karya yang bermanfaat juga agar kita bisa menghadapi kemajuan dan perkembangan zaman yang kian pesat.
Jadi, sudah siapkah kamu menjadi manusia di era digital?

Komentar