Generasi Alien (Part 1)
“Notes to myself and my future life”
Banyak yang bilang kalo kejujuran adalah harta yang paling berharga. Ada pepatah yang mengatakan bawalah sekeping kejujuran dalam sakumu kemanapun kamu berada. Pesan bijak itu harusnya udah cukup jadi bekal buat diri kita, jadi reminder ataupun alarm kita untuk lagi-lagi menyadarkan diri kita untuk selalu bersikap jujur. Tapi nyatanya? apakah eskpektasi sesuai dengan realita? saya rasa sih tidak. Karena pada kenyataannya, melakukan kejujuran atau paling gak mecoba untuk bersikap jujur itu masih susah. Masih banyak manusia-manusia yang seakan-akan lupa atau pura-pura tidak tahu kalo jujur itu wajib (termasuk saya). Zaman sekarang, banyak orang yang rela menghalalkan segala cara untuk medapatkan apa yang dia inginkan sekalipun harus dengan cara berbohong, curang dan cara-cara yang haram. Ibarat kata, di Indonesia, jauh lebih gampang mencari orang pintar daripada orang jujur. Mencari orang yang jujur itu seperti mencari peniti di tumpukan jerami. Saya tidak tahu pasti bagaimana culture kejujuran di luar negeri dan saya sama sekali tidak berniat untuk menjelek-jelekkan negara saya. Saya rasa, Indonesia adalah satu-satunya negara yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan nilai-nilai peradaban. Terlihat jelas dari tata krama ataupun ciri khas orang-orang Indonesia yang ramah tamah dibandingkan dengan negara-negara luar yang masyarakatnya cenderung individualistis. Balik lagi soal kejujuran. Harusnya, dengan “labelnya” Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi nilai moral dan peradaban, sudah selayaknya kejujuran menjadi sebuah prioritas. Tapi entah kenapa dan ada angin apakah perlahan-lahan nilai-nilai kejujuran itu mulai hilang? saya juga gak tahu pasti apakah karena perkembangan zaman yang semakin cepat?, apakah karena persaingan semakin ketat?, atau apakah ini salah satu tanda-tanda kiamat?. Bahkan manusia-manusia yang dianggap bermartabat pun seolah-olah tidak tahu, tidak sadar atau bagaimana? salah satu contoh yang menurut saya sangat miris adalah dalam hal pendidikan. Saya gak ngerti lagi sih dan bener-bener gak habis pikir kenapa institusi pendidikan tidak melarang siswa-siswinya secara tegas untuk tidak curang dalam ujian? Kenapa mau masuk sekolah favorit aja masih aja dibiarin ada yang lewat jalur belakang? yang harus bayar sekian puluh juta?. Pihak sekolah memang tidak tahu atau pura-pura gak tahu? dan yang menjadi pertanyaan terbesar di kepala saya sampai saat ini adalah untuk apa ada ujian nasional kalo ujung-ujungnya lihat contekan, lihat kunci jawaban. Jadi 6 dan 3 tahun belajar itu gunanya untuk apa? apakah esensi atau pengertian dari sekolah itu hanya sekedar nilai? apakah nilai tinggi di selembar kertas yang kita sebut dengan ijazah jauh lebih berharga daripada nilai kejujuran?. INGAT! Nilai itu memang penting tapi bukan segalanya. Mungkin, bagi sebagian generasi, tujuan mereka sekolah hanya biar dapat ijazah, dengan nilai yang mendekati sempurna, terus kuliah di PTN habis itu ikut seleksi CPNS jadi PNS deh. Alur kehidupan yang gitu-gitu aja terus and that’s one of the reason Indonesia kagak maju-maju. Generasi sekarang hanya mikirin gimana caranya bisa hidup enak. Kebanyakan dari mereka sudah keenakan sama zona nyamannya. Mereka gak tahu esensi dari sekolah, gak tahu gunanya sekolah buat apa, tahunya cuma dapat ijazah sama nilai bagus. Lebih parahnya lagi gak ada bedanya mau anak sekolahan sama mahasiswa. Sama aja. Mahasiswa yang katanya agen perubahanlah, yang katanya calon pemimpin bangsalah yang sibuk demo sana-sini yang sibuk menyuarakan anti korupsi tetapi waktu ujian saling contek-contekan so what’s the different? apa sih jadinya yang ngebedain kita sama koruptor-koruptor yang sedang menikmati hidupnya disana???. Benar memang kalo “Berpendidikan Belum Tentu Cerdas”. That’s the point. Guru saya pernah bilang kalo perbuatan mencontek itu gak ada bedanya sama korupsi. Justru kebiasaan mencontek adalah cikal bakal dari perbuatan korupsi. Terus kita harus gimana?.  Lagi-lagi yang bisa jawab itu semua adalah diri kita. Setiap orang punya jawabannya masing-masing. Tulisan saya ini bukan bermaksud untuk menggurui hanya sekedar untuk mengingatkan. Terutama mengingatkan diri saya sendiri yang kadang masih suka bohong, yang kadang masih suka curang, yang kadang masih suka melakukan plagiarisme kalo ngerjain tugas. But I’ll try to be honest. Walaupun pastinya gak bisa sekaligus tetapi at least kita udah ada niatan dan usaha buat mulai ngerubah kebiasaan kita sedikit-demi sedikit. Hanya saja, semakin saya mencoba untuk bersikap jujur, semakin banyak orang yang mulai tidak suka dengan saya atau bahkan membenci saya baik dari depan maupun dari belakang. Saya tahu beberapa diantara mereka menganggap saya sok pintar, sok hebat, sok alim merasa paling benar atau apalah itu. saya tahu beberapa diantaranya ada yang menceritakan saya di belakang (hanya saja saya berpura-pura tidak tahu) but I don’t mind. Toh, hidup bukan untuk mencari kesempurnaan di mata manusia. Ternyata, bersikap jujur itu sangat diperlukan yang namanya keberanian. Berani di jauhi sama temen, berani menantang diri sendiri, berani mendengar sindiran-sindiran yang tersirat, berani untuk terlihat aneh dan berani menjadi generasi alien. Di negeri ini orang jujur lebih tepatnya pemuda-pemuda yang jujur masih terlihat begitu aneh, pemuda-pemuda yang gak mau nyontek waktu ujian masih terlihat aneh dan terlihat sangat aneh kalo di daerah saya  seperti halnya alien. Selalu diprasangkai hal-hal buruk. Tapi itu semua tidak sebanding dengan buah manis yang akan kita petik dari belajar untuk bersikap jujur. Benar kata orang, semakin tinggi pohon, maka semakin tinggi angin yang mengguncang. Balik lagi ke diri kita masing-masing. Apakah kita lebih senang dapat nilai sempurna tapi sebenarnya gak ada isinya? Apakah kita lebih senang terlihat bagus luarnya aja? Apakah kita lebih senang dianggap bermartabat dan baik dihadapan manusia? atau dianggap bermartabat dan baik dihadapan Tuhan? 
The last note, “TEPUK DADA, TANYA IMAN.”
Let’s be honest and be brave to be honest...

Komentar